Jemeirah Beach DUBAI, 17 Nopember 2012

koleksi foto

21 February 2010

NELAYAN UNIK DI SRI LANKA






NELAYAN UNIK DI SRILANKA


Masih pagi, sekitar setengah enam pagi, ketika matahari mulai terbit, Nelayan-nelayan di Kathaluwa, Srilanka, sudah berada di atas posisinya masing-masing, berusaha untuk selalu dalam keadaan seimbang, berpijak pada tiang-tiang kayu 2 meter di atas terumbu karang. Tangkapan hari ini akan menentukan ada tidaknya makanan di meja makan mereka nanti malam.

Nelayan-nelayan ini akan duduk di atas batang melintang yang disebut petta yang terikat pada tiang vertikalnya yang ditanam di dalam terumbu karang. Mereka berpegangan dengan satu tangan sementara tangan lainnya memegang pancing. Mereka berharap memperoleh ikan baring (koraburuwa) dan ikan mackerels (bolla), yang nanti akan disimpan dalam tas plastik yang tergantung di pinggang atau di tiang. Tiang ini panjangnya 3-4 meter dengan sekitar 1,5 meternya tertanam di terumbu karang.

Mencari ikan dengan cara ini merupakan tradisi dari sekitar hanya 500 keluarga pemancing di distrik Galle, barat daya Srilanka, khususnya di sekitar kota-kota Kathaluwa dan Ahangama. Tidak jelas bagaimana dan kapan tradisi ini dimulai, tapi beberapa sesepuh di sana mengungkapkan bahwa tradisi ini sudah dimulai sejak Perang Dunia II. Memancing di masa itu dilakukan diatas permukaan lautan yang menonjol keluar. Karena tempatnya yang tidak mencukupi untuk semua nelayan, beberapa diantaranya menggunakan tiang-tiang besi bekas perang dengan menanamnya di terumbu karang untuk pijakan. Karena besi makin lama makin jarang, mereka akhirnya juga menemukan bahwa kayu juga cukup kuat untuk ditanam dan dijadikan pijakan memancing.

Kenapa mereka tidak menggunakan jala ? Menurut mereka dengan menggunakan jala ikan akan sangat lebih terganggu dan membuat persediaan ikan akan lebih cepat habis dan menghilang. Mencari ikan dengan tradisi menggunakan petta ini berarti tidak serakah dan tidak justru mengusir ikan, sehingga para nelayan ini akan terus tetap bertahan hidup. Alhasil mereka ini hanya bisa menunggu dengan sabar di atas tiang-tiang tanpa kata-kata, dan hanya berusaha menarik ikan dengan cara yang tradisional.
Menjadi nelayan seperti ini juga berarti bahwa hidup mereka harus mengikuti pula cara hidup ikan-ikan buruan mereka. Ikan-ikan di sini akan muncul pada awal angin musim barat daya dan biasanya pada pagi-pagi sekali dan sore hari, sehingga paling tidak nelayan-nelayan ini akan bekerja dua kali sehari. Tradisi ini terus diwariskan dari para orangtua kepada anak-anaknya.

Nelayan-nelayan tradisonal seperti ini seperti barang seni yang hampir sekarat dimana banyak pihak justru memburu ikan dengan cara-cara yang justru membuat ikan-ikan "menjauhi" manusia. Tidak banyak masyarakat yang punya pemikiran untuk membuat ikan-ikan buruan ini merasa tidak "terganggu"
Diposkan oleh PUNYU di Jumat, April 24, 2009
Label: NELAYAN SRILANKA
DUABADAK. BLOGSPOT.COM

20 February 2010

KENANGAN TUGAS DI KBRI COLOMBO SRILANKA 1992 - 1997




AIRPORT INTERNASIONAL COLOMBO


TENTARA SRI LANKA BERJAGA SEPANJANG JALAN AIRPORT KE COLOMBO 1992



PEMAKAMAN PRESIDEN R.PREMADASA MEI 1993 AKIBAT BOM MOBIL DI COLOMBO


HOLIDAY IN HOTEL TEMPAT TINGGAL 1 BULAN SEKELUARGA DI COLOMBO


KOTA COLOMBO



MALE IBUKOTA MALDIVES


ROYAL COLOMBO GOLF


"KENANGAN TUGAS 5 TAHUN DI KBRI COLOMBO SRI LANKA "

Pertama kali mendengar akan ditugaskan ke KBRI Colombo Sri Lanka, sewaktu di Deplu pada tahun 1992, adalah membayangkan negara Sri Lanka sedang terjadi perang antara Pemerintah Sri Lanka dan tentara LTTE, dan banyaknya bom bunuh diri, ketika itu di belum "ngetrend" bom bunuh diri dinegara manapun kecuali Sri Lanka.
Dinegara manapun dan situasi apapun sebagai Diplomat siap ditugaskan dengan membawa keluarga, waktu itu Sri Lanka salah satu kategori "pos rawan", walaupun wilayah perang berada di Sri Lanka utara tapi kota Colombo juga sering terjadi peledakan bom serta tembak menembak antara tentara PemerintahSri Lanka dan tentara LTTE.

Saat itu masih ada penerbangan Airlanka dengan rute Jakarta - Colombo transit di Singapore, dengan jarak tempuh 5 jam, tiba di Colombo malam, sepanjang perjalanan dari Airport ke kota Colombo suasana gelap karena kurangnya lampu jalan, dan banyak barikade tentara yang menghalangi jalan.
Saya sekeluarga was-was juga , tapi dengan mobil jemputan KBRI berplat CD - Corps Diplomatik - dan dijemput oleh Pejabat Protokol KBRI Bapak Philemon Arobaya ( mungkin sekarang jadi Bos di Deplu Pejambon atau di Perwakilan RI , makasih banyak ya Pak Philemon )... pikiran jadi tenang menuju Hotel Holiday Inn ditengah kota Colombo.

Kantor KBRI saat itu di wilayah perumahan Colombo 5, dengan halaman yang sempit, dan bangunan kantor kondisinya seperti bangunan rumah lama, tetapi kalau ada acara tertentu diadakan di komplek Olah raga dan Rekreasi di Colombo 7 yang cukup luas lebih kurang 10.000 m2.

Karena situasi keamanan yang rawan, beberapa Home Staf KBRI , diruang kerja disiapkan senjata pistol, mungkin untuk keamanan jika situasi tidak menentu yang mengancam staf. Sudah hal biasa di Colombo kapanpun terdengar tembakan, bahkan di dekat tinggal saya sebelah kanan 2 rumah, suatu tengah malam terdengar baku tembak , maklum disitu kantor Partai Politik Tamil yang pro Pemerintah, sehingga sering terjadi baku tembak dengan LTTE.

Tempat yang berkesan dikunjungi adalah Kandy, pantai Bentota, Robinson Club , dan lainnya. Biasanya warga Indonesia berkumpul di Komplek KBRI yaitu di Boudhaloka Mawatha Colombo 7, terdapat lapangan tenis, Fitness, Karaoke, Volley ball, Pingpong, dan juga ada Aula, dan sekarang disebelahnya telah dibangun gedung kantor KBRI.

Tentunya yang sangat berkesan selama bertugas 5 tahun dari tahun 1992 sampai 1997, adalah ikut merencanakan dan melaksanakan pembangunan Gedung kantor KBRI Colombo Sri Lanka, sampai selesai tugas tahun 1997, proses pembangunan kantor KBRI sudah mencapai 75%.
Selain itu untuk mempromosikan produksi dalam negeri Indonesia di Sri Lanka, dari Jakarta KBRI membeli 2 mobil Toyota Kijang Grand Extra tahun 1993 untuk opersional kantor, sehingga dengan adanya mobil tersebut, banyak orang Sri Lanka selanjutnya memesan dan membeli langsung ke Toyota Astra di Jakarta.

Di Colombo ini juga pada tahun 1994 pertama kali saya mengenal olah raga GOLF , dan menjadi anggota di Royal Colombo Golf bersama Athan Kolonel Rusbandrio saat itu. Peristiwa yang masih saya ingat ketika diadakan pertandingan bulanan bagi anggota Golf,seorang Pejabat Sri Lanka mati ditembak oleh LTTE dalam jarak pendek dipagar tembok tee-box, persis dibelakang group golf saya, benar2 suasana sangat mencekam, orang-orang berlarian mencari keselamatan masing-masing.

Masalah pendidikan bagi Anak-anak sangat bagus ada Colombo Internasional School, sehingga ketiga anak saya yang masih, SD dan SMP bisa mengikuti, tentunya sangat bermanfaat karena pengantarnya bahasa Inggris.

Dan di Colombo ini juga saya mendapat rezeki anak laki2 , anak ke 4 tanggal 12 Agustus 1993 lahir di Colombo ... Muhamad Adytiawan Hidayat.. sekarang sudah kelas 1 SMA di Ciracas Jakarta Timur.

KBRI Colombo juga merangkap nagara Maladewa, kota Male ibukotanya terletak di selatan Srilanka dengan penerbangan 2 jam, negara kepulauan yang sangat indah, kadang acara resepsi 17 Agutus diadakan di Male

Puncak dari perlawanan LTTE adalah ketika terjadi pembunuhan terhadap Presiden Sri Lanka pada Mei 1993 Premadesha dengan bom bunuh diri membawa mobil, dan ketika iring2an Presiden lewat terjadilah bencana tersebut, sampai kantor KBRI bergetar karena besarnya bom tersebut, dan jarak dengan lokasi kejadian 2 km.

Suasana siang malam diadakan jam malam, suasana kota Colombo sangat mencekam, kebutuhan sehar-hari susah didapat, dan akhirnya semua staff KBRI banyak yang tinggal di Komplek Boudhaloka, sambil menunggu suasana kemanan Sri Lanka normal kembali.

Pada tahun 1974 dan 1978 terjadi kecelakaan pesawat Haji Indonesia, yang pertama ketika akan mendarat di Airport Katunayake Colombo dan yang kedua menabrak Bukit di Srilanka, untuk mengenang peristiwa tersebut Staff KBRI setiap tahun diacarakan mengunjungi lokasi tempat kecelakaan sekalian silaturahmi dengan masyarakat muslim Sri Lanka yang tinggal di Bukit tempat jatuhnya pesawat haji Indonesia yang pernah membantu dengan tulus ihlas saat kecelakaan tahun 1978.

Pengalaman tugas selama hampir 5 tahun dari 1992 sampai 1997 di KBRI Colombo sangat indah untuk dikenang sepanjang hayat bagi saya sekeluarga. ( T.GUNAWAN RAZUKI )

BUKU : " TRAGEDI JATUHNYA PESAWAT HAJI INDONESIA DI COLOMBO SRILANKA 1974 DAN 1978 "




Tragedi pesawat jatuh juga pernah menimpa jemaah haji Indonesia, yakni di tahun 1974, dan tahun 1978 di Kolombo. Bahkan tragedy itu sempat di bukukan oleh seorang-orang wartawan, H. Soeharto adalah wartawan harian “Surabaya Post. Ini juga merupakan kejadian yang diambil dari pengalamannya ketika menunaikan ibadah haji tahun 1978.
Dalam route penerbangan, pesawat naas itu harus transit di Kolombo, untuk kepentingan penggantian crew. Ternyata pesawat itu harus menujam di tanah Srilangka dan terbakar, sebagian penumpangnya gugur. Tergambarkan dalam buku ini, bahwa ratusan pepohonan kelapa rebah seperti dibajak dan terbabat habis. Badan pesawat berkeping-keping, dan terlempar jauh berpuluh-puluh meter.

Data Buku: JUDUL : Tragedi Pesawat Haji Di Kolombo—15 Nopember 1978
PENULIS : H. Soeharto
PENERBIT: Warga Surabaya
CETAKAN: I –1979
TEBAL : 210

Tragedi Kolombo di tahun 1978 ini merupakan musibah bagi negeri Srilngka, sekaligus promosi buruk. Betapa tidak? Justru dua kali dalam bentuk yang sama kecelakaan terjadi di negeri ini. Kesamaannya : sama-sama pesawat DC-9 dan yang sama-sama mengangkut jemaah haji Indonesia. Bedanya hanya pesawat dalam musibah pertama [1974] ketika meninggalkan lapangan terbang menuju Jeddah, sedangkan dalam musibah yang kedua [1978] pesawat hendak menuju lapangan terbang.
Anehnya ketika tragedy terjadi, dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu di Srilangka, musibah ini di exploiter untuk menyerang rezim pemerintahan yang sedang berkuasa. Dikataklamn bahwa pemerintah tidak memberikan fasilitas atau memperbaiki fasilitas penerbangan yang baik pada lapangan terbang Katunayake. Melihat adanya opini politik yang menyerang pemerintah, Presiden Srilangka Jayawardhane dengan sigap menukas, dan merespon dengan melakukan penyelidikan atas musibah tersebut.
Menurut penulis terdapat beberapa alternative mengapa kecelakaan tersebut terjadi:

1.
pesawat sudah tua
2.
pilot yang salah melakukan landing
3.
fasiltas lapangan terbang yang kurang memenuhi
4.
cuaca

Musibah ini akhirnya merenggut 173 minggal, dan 76selamat, namun dalah hitungan hari menyusul seorang meninggal lagi.

Solidaritas Muslim :

Para sukarelawan penduduk Srilangka beragama Islam, tampak sibuk membantu polisi mengankut korban. Bahkan penduduk sukarelawan yang menolong tanpa pamrih ini, membantu membungkus mayat dan mengikatnya hingga rapi. Mereka sangat fanatic. Orang-orang yang bukan Islam, tidak diperkenankan sama sekali menjamah mayat yang dianggapnya “sister” dan “brother” .

Sepintas Musibah tahun 1974.

Musibah Kolombo 4 Desember 1974, adalah tragedy yang sangat menyayat, sebuah pesawat “Martin Air” DC- 8 F55 menabrak “Bukit Adam,” atau “Bukit Tujuh Perawan,” sebelum pesawat melandas di Katuyanake Kolombo. Jaraknya masih tercatat 100 mil dari lapangan terbang.
Tiada kehidupan. Pesawat itu hancur berkeping-keping 182 jemaah haji, 3 pramugari dan 8 orangcrew pesawat tida dikenal seorangpun. Hancur bersama puing-puing.
Jenasah dari jemaah, yang masing-masing dari Lamongan [16 orang], Surabaya [1 orang],Sulawesi Selatan [50 orang], Kalimantan Timur [3 orang] dan Blitar [111orang], yang dikenal beberapa kepingan daging dan tulang, di kebumikan di Masjid tua Ampel

14 February 2010

PENGALAMAN TUGAS DI KJRI JEDDAH : ALHAMDULILLAH BISA MASUK KA'BAH DI MASJIDIL HARAM MEKKAH




RUANG DALAM KA'BAH
Saya sempat memotret Ka'bah dan Masjidil Haram dg kamera Nikon F3 (atas dan bawah)

Mengenang 24 tahun yang lalu tepatnya tanggal 22 Maret 1989 ketika bertugas di KJRI Jeddah Saudi Arabia, adalah menghadiri acara pencucian Ka'bah di Masjidil Haram di kota Mekah.

Pengalaman spiritual yang tak terlupakan adalah diberi anugerah oleh Allah swt untuk memasuki Ka'bah, ada peraturan baru mulai saat itu demi keamanan, undangan yang bisa memasuki Ka'bah , dari diplomat Indonesia hanya 2 orang yaitu Duta Besar RI di Riyadh dan Konsul Jenderal RI di Jeddah , tentunya saya sebagai Staf Diplomatik tidak termasuk.

Sebagaimana diketahui pada tahun-tahun sebelumnya adalah Pimpinan dan semua staf laki2 dari KBRI dan KJRI, asal berpakaian jas lengkap bisa memasuki Ka'bah pada acara pencucian Ka'bah yang diadakan pada pertengahan bulan Shaban, pintu Ka'bah dibuka hanya setahun sekali dan 1 Dulhijah adalah pembukaan dan penggantian baru Kiswa atau kain hitam penutup bangunan Ka'bah.

Oleh karena itu sangat mustahil dan dengan penjagaan yang ketat dari para askar2 atau polisi yang berlapis memutari Ka'bah, orang yang tidak mempunyai tanda pengenal bisa memasuki dan mendekat Ka'bah apalagi memasuki pintu Ka'bah dan mengunjungi dalam Ka'bah.

Seketika itu secara spontan saya bersujud diluar ring askar di belakang Maqom Ibrahim menghadap arah Batu Hajar Aswad dan Pintu Ka'bah yaitu Multazam, berdoa memohon kepada Allah SWT agar kali ini menjelang tugas selesai di Jeddah selama 4 tahun, diberi kesempatan dapat memasuki Ka'bah, sebelum pulang ke tanah air Indonesia

Alhamdulillah, saya bangun sambil memandang Ka'bah, tanpa disangka ada seorang Askar menggandeng tangan saya dan mempersilahkan saya melewati penjagaan askar , menaiki tangga dan memasuki Ka'bah.

Didalam Ka'bah saya sujud syukur, airmata menetes membasahi pipi, benar2 takjub luar biasa atas kebesaran Allah mengabulkan doa saya,.... dapat masuk Ka'bah tanpa rintangan apapun walau tanpa memakai tanda pengenal dan semua staf KBRI dan KJRI diluar ring askar melihat saya terbengong-bengong, heran. takjub, dan tidak mungkin... saya bisa masuk Ka'bah...Allahhu Akbar...Allah Maha Besar ..
( OLEH : TAMBAH GUNAWAN )




Jakarta, Jum'at 2 Januari 2009

KENANGAN TUGAS DI KJRI JEDDAH : MENYAKSIKAN ACARA PENCUCIAN KA'BAH DI MASJIDIL HARAM MEKKAH

href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgPD8EoIMKU09DNh1CEnQEkUQKg_sk7q4kCgF_60r0zeiIJAQumVx3_PqLzEW6SgBx0qBMbi4IAmuUVNthmjPXV5qjDBCrQdE_esh7by3P_FoClAZTjIdwviIDs9MgScssyl4-zSuDskRs/s1600-h/bmayu+2009.jpg">







KENANGAN MEMOTRET HAJAR ASWAD, 1990



Orang pertama yang memulai tradisi pencucian Ka'bah di Masjidil Harram Mekkah adalah Nabi Muhammad SAW. .

Hal ini berlangsung saat penaklukan Mekkah. Nabi yang dikirim kunci Ka'bah dari Othman Bin Taha Al Qurashi Al Sheybi dengan tujuan untuk menghancurkan patung-patung. Al Sheybi dihubungi Nabi melalui cucu kelimanya yang bernama Qussay Bin Kilaab. Nabi mengintruksikan agar pencucian Ka'bah dengan air zam zam , dicuci di bagian luar dan dalamnya.

Sejak saat itu kemudian pencucian Ka'bah menjadi tradisi sejak masa Nabi Muhammad SAW sampai saat ini.
Pencucian ini dilaksanakan dalam setahun 2 kali. Pertama pada 1 Dhul Hijja Ka'bah dicuci dan penggantian serta ditutup dengan Kiswa (kain penutup bangunan Ka'bah) yang baru.

Kedua pada pertengahan bulan Shaaban sewaktu pintu Ka'bah dibuka dengan kunci yang panjangnya 30 cm yang memiliki lubang disisinya.
Seperti diketahui pintu Ka'bah hanya dibuka hanya sekali setahun yakni pada pertengahan bulan Shaaban.

Upacara pencucian ini pada pagi hari setelah matahari terbit.
Penjaga pintu Ka'bah, Sheikh Assim Al Sheybi, asistennya Dr. Saleh Al Sheybi, semua anggota keluarga Sheybi, pejabat dan pegawai Masjidil Harram Mekkah, semuanya menyiapkan air zam zam, ember yang berisi air mawar, sapu serta wewangian.

Kesemua ini dibawa kedalam sebelum kedatangan Gubernur Mekkah yang akan memulai prosesi pencucian Ka'bah.
Setelah selesai persiapan, Gubernur Mekkah, para pejabat serta pegawai juga para diplomat asing yang beragama Islam dipersilahkan memasuki pintu Ka'bah satu persatu.

Semuanya mulai menyapu serta mencuci serta mambasahkan dinding dalam Ka'bah hingga setinggi orang saja, serta mengepel lantai Ka'bah dangan air zam dan air mawar .
( OLEH TAMBAH GUNAWAN )
Sumber koran "Saudi Gazette" 23 Maret 1989

27 January 2010

KENANGAN TUGAS DI KJRI JEDDAH SAUDI ARABIA 1986-1990


"PATUNG KAPAL DARAT" DI KOTA JEDDAH, dimuat di Majalah Tempo 1987 oleh T.Gunawan


" PATUNG KAPAL DARAT " DI KOTA JEDDAH, Oleh T.Gunawan 1987



SAUDI ARABIA

Dari :wikipedia.com

Motto: لا إله إلا الله محمد رسول الله
Lagu kebangsaan: An-Nasheed Al-Wattani As-Saudi
Ibu kota
(dan kota terbesar) Riyadh
Bahasa resmi Arab
Pemerintahan Monarki Multak Islam
- Raja Abdullah bin Abdulaziz al-Saud
- Pangeran Sultan bin Abdul Aziz al-Saud
Persatuan
Luas
- Total 2,240,000 km2 (15)
- Air (%) dapat dihiraukan
Penduduk
- Perkiraan 2006 27.019.731 (46)
- Sensus 2004 25.100.430
- Kepadatan 11/km2 (169)
PDB (KKB) Perkiraan 2005
- Total US$576,4 miliar (24)
- Per kapita US$15.338 (46)
Mata uang Riyal (SAR)
Zona waktu (UTC+3)
- Musim panas (DST) (UTC+3)
Domain internet .sa













SAYA DI HAJAR ASWAD KA'BAH MEKKAH 1990, ACARA PENCUCIAN KA'BAH


DI JEDDAH : SEPEDA TERBESAR DI DUNIA


DI PANTAI JEDDAH SAUDI ARABIA 1

Batu Hajar Aswad (by t.gunawan)


Gua Hira, Mekkah (by t.gunawan)
Perbukitan Gua Hira Mekkah (by t.gunawan)




Kota Mekkah dilihat dari Bukit Gua Hira (by t.gunawan)






Saya mencium Hajar Aswad, 1989







Bukit Gua Hira Mekkah (by t.gunawan)








Acara pencucian Ka'bah ,1989









Polisi mengelilingi Ka'bah waktu pencucian Ka'bah










18 January 2010

PENGALAMAN TUGAS DI KBRI YANGON MYANMAR : "SITUASI SANGAT MENCEKAM DALAM KERUSUHAN DI YANGON SEPTEMBER 2007"







WARTAWAN JEPANG DITEMBAK OLEH TENTARA MYANMAR KETIKA MELIPUT DEMONTRASI DI YANGON





Foto-foto dari : " Suara Merdeka" dan koran lainnya



PENGALAMAN TUGAS DI YANGON : "SITUASI SANGAT MENCEKAM DALAM KERUSUHAN DI YANGON MYANMAR SEPTEMBER 2007 ".

oleh : T.Gunawan Razuki, 2006-2007 pernah bertugas sebagai Counsellor Pensosbud KBRI Yangon Myanmar



Pagi itu Kamis 27 September 2007 cuaca kota Yangon Myanmar cukup cerah, saya mengendarai mobil Nissan VIP warna putih cukup tua tahunnya untuk ukuran Indonesia, dengan perlahan keluar pintu gerbang komplek perumahan staf KBRI Yangon berjarak cukup dekat 2 km ke kantor KBRI.

Hati ini berdesir kulihat disudut -sudut jalan banyak truk penuh tentara Myanmar siap tembak, sedang parkir, dan di sepanjang depan Kedutaan Besar Cina dipasang barikade kawat berduri dan berderet tumpukan karung pasir para tentara Myanmar berjaga sepanjang jalan menuju kantor KBRI.

Situasi Yangon sangat mencekam, tidak terlihat bus-bus sebagai angkutan umum, toko-toko bahan makanan banyak yang tutup, komunikasi telpon dan internet sangat susah diakses, koran satu-satunya milik Pemerintah hanya menyajikan berita propaganda Pemerintah Myanmar saja.
Beberapa Perwakilan Asing sudah banyak yang mengevakuasi warganya ke luar negeri, karena situasi keamanan kota Yangon yang tidak menentu.
Mengingat itu, sebagai Pejabat Fungsional Pensosbud, melaporkan dan mengusulkan kepada KUAI KBRI Yangon Bapak Philemon Arobaya, agar mengadakan rapat dengan warga masyarakat Indonesia untuk membahas situasi dan mempersiapkan rencana evakuasi keluar negeri.
Kemudian berkoordinasi dengan Pejabat Fungsional Protokol Konsuler Bapak Adi Kuntarto serta Atase Pertahanan Kolonel Dedi, siang itu di Balai Mitra KBRI Yangon berlangsung rapat dengan WNI serta seluruh staf lebih kurang 75 orang.

Akhirnya diputuskan jika situasi Myanmar tidak terkendali lagi serta kerusahan semakin meningkat, maka KBRI menyediakan 3 tempat penampungan sebelum mengevakusasi ke luar negeri, yaitu di kantor KBRI, komplek perumahan Home staf serta Flat Lokal staf.

Jam malam sudah diberlakukan mulai jam 9 malam sampai jam 5 pagi, sehingga sangat menyulitkan bagi warga Muslim yang sedang menjalan ibadah Puasa dan sholat Tarawih bersama yang diadakan di Masjid komplek Flat lokal staf.
Selesai rapat sore itu segera saya mengirim berita hasil rapat antara KBRI dan WNI tentang tempat penampungan WNI dan rencana evakuasi dengan pesawat udara yaitu Lion Air yang sedang disewa Pemerintah Myanmar, berita itu dikirim melalui internet ke Direktorat Diplomasi Publik Deplu Jakarta untuk dimuat di website http://www.deplu.go.id.

Itulah akses internet yang terakhir yang bisa keluar, setelah itu hubungan internet dengan dunia luar diputus, saya sangat beruntung karena besok harinya saya lihat di media televisi Indonesia, sebagai satu-satunya akses parabola belum diputus, diberitakan hasil rapat di KBRI Yangon tanggal 27 September 2007.

Situasi Yangon lebih mencekam lagi dengan tertembaknya wartawan Jepang oleh tentara Myanmar yang sedang meliput demontrasi , ditambah ratusan mahasiswa, rakyat serta biksu Budha yang ditangkapi, situasi sangat traumatis bagi rakyat Myanmar ketika mengenang peristiwa pada tahun 1988 dimana pada saat itu ribuan orang bergelimpangan di tembak tentara Myanmar ketika berdemontrasi di kota Yangon Myanmar. ( OLEH : TAMBAH GUNAWAN )


STAF KBRI YANGON MYANMAR SEPTEMBER 2007


WISMA DUTA KBRI YANGON MYANMAR SEPTEMBER 2007

BERITA TTG SITUASI TERAKHIR YANGON DIBERBAGAI MEDIA YG DIKIRIM OLEH KBRI YANGON :

UPAYA PERLINDUNGAN WNI DI MYANMAR
Deplu go.id - 01 Oktober 2007

KBRI Yangon mengadakan pertemuan dengan WNI di Myanmar guna membahas situasi politik dan keamanan di Myanmar yang semakin genting. Pertemuan ini dilaksanakan di Balai Mitra KBRI Yangon Myanmar pada tanggal 27 September 2007. Hadir dalam pertemuan tersebut Athan RI, Pejabat Fungsi Pensosbud, Pejabat Fungsi Protokol Konsuler serta Staf KBRI bersama lebih kurang 60 masyarakat Indonesia yang berkerja dari berbagai perusahaan, kantor PBB dan lainnya.

Mengingat situasi di Myanmar saat ini, Athan KBRI Yangon dalam kesempatan itu menyampaikan Protap untuk WNI di Myanmar jika terjadi situasi di Myanmar yang tidak terkendali lagi. Langkah tersebut antara lain membuka tempat-tempat penampungan bagi WNI di tiga tempat yaitu di KBRI Yangon, di Rumah Indonesia komplek perumahan Home Staff serta di " Guest House " Komplek Sekolah serta Flat Lokal Staf. Kemudian melakukan evakusasi lewat udara menuju Bangkok atau Singapura terus ke Jakarta.

Pertemuan ini dinilai sangat bermanfaat untuk mencari solusi pengamanan dan perlindungan bagi WNI. Jumlah WNI di Myanmar saat ini ltidak kurang dari 250 orang termasuk Staf KBRI berjumlah 50 orang, masyarakat Indonesia terdiri dari pejabat di WHO, pengusaha, pelaut, crew "Lion Air", pekerja di perminyakan, dan lainnya.

Mulai tanggal 25 September 2007 di kota Yangon dan Mandalay telah diberlakukan jam malam dari pukul 21.00 sampai 05.00 pagi selama 60 hari. Berkaitan dengan hal tersebut KBRI telah membuka Posko untuk mengantisipasi perkembangan terkini di Myanmar. Demontrasi yang terjadi setiap hari berdampak terhadap perekonomian sehari-hari terutama di Yangon seperti berkurangnya bahan makanan dengan ditutupnya toko-toko, sulit menukar ke uang setempat, komunikasi telepon keluar dibatasi, susahnya transpotasi dan lain-lain.

Dengan adanya pertemuan tersebut diharapkan adanya ketenangan WNI di Myanmar sebagai bentuk pembinaan masyarakat dan bantuan serta perlindungan WNI dari KBRI Yangon Myanmar pada situasi apapun. (pw)- dari Pensosbud KBRI Yangon/Tambah Gunawan


Sumber: Situs Deplu RI -- www.deplu.go.id

08 January 2010

MENGENANG TRAGEDI PESAWAT HAJI INDONESIA JATUH DI SRI LANKA

Bencana kedua di Colombo Srilanka
Majalah Mingguan TEMPO

Untuk kedua kali jemaah haji indonesia mendapat kecelakaan di sri lanka. kali ini pesawat eslandia yang dicarter garuda jatuh menjelang mendarat. 181 dari 262 orang isi pesawat meninggal.
CUACA buruk, Rabu malam pekan lalu, menyelimuti bandar udara antar bangsa Kutanayake, 25 km dari Kolombo, ibukota negeri pulau Srilangka.
Hujan lebat dan badai. Laju angin utara 11,4 km perjam dan lembab udara mencapai 100%, lampu-lampu landasan pun padam, hingga jarak pandang cuma mencapai 6 km.

Menurut petugas meteorologi bandarudara, dalam cuaca normal, jarak pandang landasan yang bagus untuk mendarat adalah 8 km. Jam 23.30 waktu setempat Rabu malam itu (Kamis jam 02.30 WIB dinihari), petugas menara pengawas bandar udara samar-samar melihat sebuah pesawat jet mendekat dari jarak 145 km. Karena terbang pada ketinggian cuma 195 meter, pilot diperingatkan terbang terlalu rendah. Meski begitu, petugas menara masih berusaha memandunya ketika pesawat mendekat pada jarak 6 km dari bandarudara. Di layar radar tampak noktah, tanda bahwa pesawat masih terjangkau oleh radar, sementara kontak panggilan diserukan berulang-kali: "Lima, Lima, Zero, Zero One " Tapi 27 detik kemudian, noktah itu pun lenyap dari layar radar dan sahutan dari pesawat pun tak lagi terdengar. Pesawat yang bermaksud melandas di Landasan 22 itu jatuh hanya sekitar 3,7 km sebelah timur bandarudara .... Jatuh di perkebunan kelapa, pesawat itu patah tiga. Ekornya putus, hidung terhunjam di tanah berlumpur.
Mesin-mesinnya berantakan. Ledakan berdentum dahsyat 2 kali. Ketika fajar menyingsing, pemandangan mengerikan. Mayat berserakan tertindih puing pesawat, sebagian meninggal duduk di kursi dengan sabuk pengaman masih terkunci. Itu adalah pesawat DC-8 Icelandic Loftleider dari maskapai penerbangan Eslandia. Dicarter maskapai penerbangan Garuda, pesawat long body berkapasitas 240 itu mengangkut 249 jemaah haji dari Jeddah dengan awak pesawat 13 orang. Dengan tujuan Surabaya, Icelandic di kemudikan oleh pilot Haukar Hervinsson dan Ragnar Thorkelsson dengan ko-pilot Gudjon Runar Gudjonsson. Hervinsson yang beranak 3 orang itu sudah 12 tahun sebagai pilot di Icelandic Airways. Ia meninggal bersama 7 rekan awak pesawat lainnya serta 173 jemaah haji. Adapun jemaah haji itu berasal dari Kalimantan Selatan yang berangkat terbang dari bandarudara Juanda Surabaya.

Itu adalah penerbangan pertama fase kedua memulangkan jemaah haji ke tanah air. Kesibukan luar-biasa meliputi Kolombo. Kantor-kantor pemerintah mengibarkan bendera setengah tiang, sementara Menteri Perhubungan Srilangka, M.H. Mohamed, menghimbau umat Islam bersembahyang gaib. Hari Jum'at itu dinyatakan sebagai hari duka. Umat Islam Srilangka bahkan menghendaki para korban yang meningal, para syuhada dimakamkan hari itu juga di Srilangka. Sejak Rabu malam jam 24.45 waktu setempat, para petugas RSU Kolombo bekerja tanpa istirahat. Sejumlah besar perawat yang sedang mengikuti sebuah pertemuan, dengan sukarela membantu para korban. Termasuk sejumlah siswa perawat dan sukarelawan Palang Merah setempat. Dua tim dokter dikerahkan, juga para ahli bedah syaraf dan ortopedi. RS Negombo yang jauhnya 50 km dari Kolombo pun, sibuk. Sebelas jam setelah musibah, kotak pencatat penerbangan yang lazim disebut black box ditemukan. Dibawa ke Kolombo, kotak berisi pita perekam percakapan antara petugas menara pengawas dan pilot itu akan diperiksa di pabrik Mc Donald Douglas, AS, tempat pesawat DC-8 dibikin untuk mengetahui musabab kecelakaan. Ini musibah besar kedua untuk jemaah haji udara dari Indonesia.

Yang pertama 4 Desember 1974 lalu, juga Rabu malam, juga di Srilangka dan juga dengan DC-8. Juga dicarter oleh Garuda, juga berangkat dari Surabaya. Bedanya musibah 1974 lalu dengan pesawat dari maskapai penerbangan Martinair, Belanda, jatuh di Puncak Adam dari perbukitan Tujuh Perawan, semua meninggal - 182 jemaah dan 9 awak pesawat.
Mengapa harus singgah di Kolombo? Menurut Menteri Perhubungan Haji Rusmin Nuryadin yang baru pulang menunaikan ibadah haji dan Sabtu pagi pekan lalu melapor Presiden Soeharto, hal itu terserah perusahaan penerbangan bersangkutan. Dibanding Bombay dan Karachi sebagai pilihan lain, Kolombo "lebih menguntungkan," antara lain karena terbuka 24 jam. Tentang pemilihan maskapai dan pesawatnya, menurut Rusmin, "lisensinya sudah diperiksa oleh Direktorat Kelaikan Udara Ditjen Perhubungan Udara." Sumber TEMPO di Garuda senada dengan Rusmin. Dalam hal carter, "pokoknya Garuda tahu beres, semua sudah diteliti Ditjen Perhubungan Udara." Tentang persinggahan di Kolombo, "karena Kolombo di tengah-tengah. Jeddah-Kolombo dan Kolombo-Jakarta, masing-masing 5 jam terbang." Katanya pula, pesawat Condor Boeing 747 Lufthansa yang jauh lebih besar juga singgah di sana. Sampai sekarang, setiap Sabtu, Garuda yang terbang ke Eropa pun singgah di sana. Beberapa waktu lalu Kolombo memang tidak disinggahi karena persediaan bahan bakar menipis. Tapi mengapa mesti carter pesawat lain? "Untuk mengangkut 72.000 jemaah haji, armada Garuda tidak cukup," kata sumber itu. Untuk itu dicarter 1 DC-8 Icelandic, 1 DC-10 UACI (United Air Carrier International), 2 DC-10 Martinair. Garuda sendiri mengerahkan 2 DC-10, "hingga jadwal penerbangan ke Eropa dan Australia dikurangi." Untuk memulangkan sisa jemaah haji jatah Icelandic, Garuda akan mengangkut dengan pesawat sendiri. Minggu 19 Nopember kemarin jam 18.25 WIB, pesawat DC-10 Garuda CA 897 mendarat di Halim Perdanakusumah. Selain membawa 40 penumpang dari Amsterdam dan Paris, diangkut pula 33 dari 76 jemaah yang selamat.
Mereka lalu diistirahatkan di 20 kamar Hotel Indonesia Sheraton di lantai 3, yang dilengkapi sajadah, Alqur'an dan kompas penunjuk kiblat. Menurut mereka, pesawat Icelandic yang celaka itu memang sudah terlambat 3 jam berangkat dari Jeddah Bagaimana perasaan mereka? Haji Tabrani Basri, 39 tahun, dosen Universitas Lambungmangkurat, berkata "Di pesawat saya mimpi sembahyang di mesjid Nabi. Di sekeliling saya mayat berserakan. Ketika terjaga, pesawat sudah mendekati Kolombo. Dan beberapa menit kemudian pesawat tidak normal." Dosen Unlam lainnya, Jusuf Mansur meninggal. Menurut cerita rekannya, Ibrahim Aman, juga dosen Unlam yang menjenguk Tabrani di HI, dalam rapat senat menjelang berangkat haji Jusut minta waktu bicara. Katanya antara lain: "Kata orang berangkat haji itu berangkat mati. Saya minta maaf kepada saudara-saudara, mungkin saya mati di negeri orang." Lain lagi cerita Haji Abi Karsa tentang Jusuf. Dalam perjalanan dari Kutanayake ke rumah sakit, Abi semobil dengan Jusuf. Cerita Abi: "Kelihatannya ia tak apa-apa. Kami omong-omong biasa, sementara di luar hujan lebat. Menjelang sampai rumahsakit, eh, dia diam saja. Ternyata sudah meninggal. Innalillahi. . . " Abi Karsa, wartawan Banjarmasin Post itu, ditemui TEMPO di kamar 314. Kakinya bengkak, dibalut. Jalannya pincang. Di kertas notes hotel, ia menulis: "Sebelum musibah, mendadak ada pemberitahuan tanda bahaya.
Mula-mula pesawat tergoncang keras, perut pesawat menyentuh pucuk pepohonan, lalu jatuh. Goncangan dan hempasan begitu keras, rasanya sulit bisa hidup. Teriakan dan rintihan terdengar dari berbagai sudut. Saya buru-buru membuka sabuk pengaman, mengajak isteri saya keluar. Kursi kami di sebelah kiri, di bagian ekor dekat pintu darurat, api mulai membesar di sayap kanan. Saya mencoba memecah jendela tapi gagal. Lalu isteri saya melihat ada lobang di belakang. Ternyata ekor pesawat putus dan perutnya terbuka lebar. Dalam waktu singkat, saya berusaha mendorong pecahan pesawat, ke luar membimbing isteri saya. Baru dua meter, kami terperosok di antara puing pesawat. Untung bisa lepas. Ledakan pertama terdengar, kami bertiarap. Lalu lari.
Baru sekitar sepuluh meter, ledakan lagi dan kami tiarap lagi. Baru setelah itu ke rumah penduduk terdekat. Beberapa menit kemudian polisi, ambulans dan pemadam kebakaran datang. Dengan bahasa Inggeris, saya minta kepada orang-orang Srilangka agar para korban segera dibawa ke rumah sakit." Isteri Abi menambah: "Ada asap hitam. Kira-kira 10 orang yang mengeluarkan lendir hitam dari hidung karena terisap asap itu. Ketika terdengar ledakan pertama, semua berteriak Allohu Akbar. Kemudian berlarian keluar dan terdengar ledakan kedua. Orang Srilangka baik-baik. Mereka membawa makanan. Karena lapar, saya makan saja. Di RS Negombo, wah susah. WC nggak ada. Kotoran ditampung entah mau diapakan. Kotornya bukan main, lebih bagus Puskesmas di sini." Semalam menginap di Hotel Indonesia Sheraton, paginya mereka diterbangkan ke Banjarmasin. Sabtu petang jam 15.25 WIT, 2 pesawat Hercules TNI-AU mendarat di bandarudara Syamsuddin Noor, Banjarmasin, membawa 111 peti jenasah, berisi 173 korban.
Tapi hanya 37 korban yang dikenal identitasnya. Mereka disemayamkan sementara di bandarudara, sedang 136 lainnya yang tak lagi dikenali dimakamkan di 4 lubang ukuran 6 x 2l/2 meter, tak jauh dari Makam Pahlawan "Bumi Kencana", Banjarbaru. Pemakaman dengan upacara militer itu baru selesai jam 21.30. Hari itu semua restoran, bar, bioskop dan tempat hiburan lainnya tutup. Bendera hijau terpancang di pintu-pintu keluarga para korban. Atas kepergian para syuhada itu, Menteri Agama Alamsyah mengajak berdoa "semoga semua amal ibadahnya diterima oleh Allah SWT dan mendapat tempat yang layak di sisinya. Amin."